Senin, 19 Juli 2010

The Power of Goban

SALE mungkin istilah ini ga ada yang ga kenal. Dari anak kecil sampai orang yang sudah berumur (apalagi). Dari orang dengan latar belakang sosial, ekonomi pastilah paham dengan kata yang satu ini. Dan terus terang, buat saya pribadi, ketika mendengar kata ini pasti adrenalinnya naik (ya layaknya orang yang sedang naik gunung, ngebut-ngebutan di jalanan atau nyebrang di jalan tol – waaaakss.. yang ini bukan bikin adrenalin meningkat lagi, tp emang orang kurang kerjaan aja dan ga bisa ngehargain hidup).

Tapi tilik saja, tidak hanya di kota-kota besar, dimanapun yang namanya sale pasti mengundang banyak orang. Entah itu memang benar kalau harganya memang didiskon sesuai dengan harga awalnya atau seperti rahasia umum yang sudah beredar di masyarakat kalo di acara-acara sale macam itu harganya dinaikin dulu baru didiskon harganya. Wallahualam.

Ambillah contoh event-event yang digelar secara rutin seperti misalnya … Big Sale (merujuk pada salah satu department store terkemuka di kota-kota besar), Jakarta Great Sale, (yang katanya diadakan untuk dapat mampu menyaingi negara tetangga), atau yang saat ini sedang happening yaitu Late Night Sale. Jangan salah mengira lho kalau Late Night Sale itu sepi pengunjung karena acaranya diadakan di malam hari. Justru yang terjadi adalah sebalikannya. Ada salah seorang expatriate yang saya kenal dan waktu diadakannya late night shopping itu beliau iseng untuk mengunjunginya. Tempatnya saat itu di salah satu mall besar di daerah Senayan. Dan guess what, dia harus rela turun dari taksi dan berjalan lumayan jauh dari Sudirman ke Senayan hanya karena maceeeeettttttt antrian kendaraan yang mau antri masuk ke mal tsb dan akhirnya beliau berkata, ”This is the first and the last time”. Atau misalnya fenomena antrian sandal karet impor yang mengular sampai beberapa lantai. Padahal siy kalau dilihat kembali, harganya juga ga murah-murah amat. Takjub, hanya itu satu kata yang bisa diungkapkan.

Hal ini juga yang coba saya terapkan di online shopping milik saya. Awalnya memang saya pernah menggunakan taktik marketing macam ini (kalau boleh dibilang sebagai salah satu taktik marketing lho ya.. habis saya jualan tapi ga punya ilmu marketing sama sekali, alias bondo nekat). Jadi barang-barang yang sudah lama dan ga up to date saya turunkan harganya (ga pakai hitungan berapa persennya, pokoknya diturunin aja). Tapi kalau yang ini asli, ga saya naikkin dulu lho harganya. Soalnya saya ga mau dapat cercaan dari konsumen-konsumen lama saya yang sudah tahu harganya duluan. Atau bahkan sudah mengincar satu produk tapi (mungkin) harganya mahal (menurutnya – padahal siy bener deh harganya ga mahal hehehe sekalian promosi). Yah mahal kan relatif, tapi kalau sesuai dengan kualitas, apa bisa dibilang mahal? (asyik-asyik ngeles aja)

Tapi tetap saja ada beberapa barang yang meskipun sudah diturunkan harganya tapi tidak diturunkan juga dari lemari pajangan alias belum laku. Tiba-tiba saja terpikirlah suatu ide yaitu menjual semua barang yang sudah jadul alias jaman dulu dalam satu harga yaitu Rp. 50.000 (Stop!! Jangan berfikir bahwa barang-barang jadul koleksi saya itu benar-benar jadul ya karena dapat dipastikan bahwa itu masih diproduksi di tahun 2009 koq, hanya saja memang sudah lama ngendon di lemarinya). Dan responnya sungguh diluar dugaan. Walhasil pada hari itu saya kerepotan pastinya karena tiba-tiba muncul banyak pesanan bahkan sampai wl alias waiting list. Benar-benar hari yang sangat berbeda dibandingkan hari biasanya. Entah memang karena efek harganya yang hanya Rp. 50.000 atau memang masyarakat kita yang doyan dengan yang namanya sale itu. Tapi yang pasti, saya senanglah karena akhirnya saya bisa menambah omzet untuk bulan ini. Dan kalau boleh saya bangga, tidak lama kemudian, banyak on line shopping tetangga dunia maya saya yang akhirnya melakukan hal yang serupa.

Rabu, 07 Juli 2010

Dibuka : Lowongan Jadi Preman, Mau ??

Tulisan ini hanya sekedar murni sharing semata dan tidak bermaksud untuk memojokkan seseorang atau sekelompok orang tertentu.

Yang ingin saya bagi disini hanya kelakuan orang-orang yang mungkin sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita sehari-hari.

Akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa terdapat beberapa orang yang bertingkah seenaknya sendiri dan tak ubahnya menjadi preman kecil-kecilan. Yah katakanlah misalnya aksi mengendarai kendaraan yang tidak tertib (tidak menyalakan lampu motor, berkendara melawan arus, ngetem di sembarang tempat, membunyikan klakson sekeras-kerasnya padahal memang kondisi jalan tidak memungkinkan untuk maju bahkan sampai berteriak kata-kata kasar dan tidak sopan).

Awalnya saya tidak begitu menggubris keadaan tsb dan ketika suami sering ngomel saat harus berhadapan dengan kondisi demikian, selalu saya jawab dengan, ”Sabar aja, dia lagi kebelet pipis kali”. Tapi anehnya, keadaan seperti ini semakin lama semakin sering terjadi, dan akhirnya membuat saya berpikir apa orang-orang ini gak punya aturan? Waduh kalau dibiarkan seperti ini bakal repot juga ya? Orang seenaknya sendiri, dan ga mau peduli sama yang lain. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada orang-orang dengan kondisi ekonomi lemah saja yang mungkin tidak berpendidikan. Bahkan saya pun sering menjumpai orang-orang macam ini yang tinggal di kawasan elit, berkendara mobil mewah dan tak lupa menenteng gadget mutakhir. Jadi, jangan pula jadikan kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan sebagai faktor pendorong.

Mungkin ada anggapan bahwa ”hidup di Jakarta itu keras Bung!”, kita menindas atau kita yang nantinya tertindas. Nah kalau pahamnya seperti ini, silakan saja tinggal di hutan, Bung ! (hehehe.. kasian si ”Bung” ini suka jadi kambing hitam. Kenapa juga ga, ”Neng”, ”Bang” atau ”Mas” sekalian?).

Orang seringkali menunjuk-nunjuk si A ga tau aturan, si B itu preman, tapi apakah kita sudah bercermin pada diri sendiri?

Saya pribadi selalu menganut paham bahwa ketika kita menunjuk-nunjuk orang lain karena kesalahannya, sebenarnya di tangan kita itu ada 3 jari lainnya yang sedang menunjuk ke arah kita sendiri. Artinya, banyak orang marah, kecewa, tidak puas terhadap tingkah laku orang lain tapi ternyata dirinya sendiri pun juga masih melakukan hal-hal kecil yang sifatnya remeh temeh namun secara tidak langsung mengganggu kepentingan orang lain (mungkin juga orang banyak).

Jadi, masih berminat jadi preman?

Senin, 05 Juli 2010

Pantura: Antara Sopir Truk, Tank Top dan Lobang

Siapa yang tak kenal dengan jalur ini, jalan utama yang menghubungkan antar kota di pulau Jawa. Tentunya jalur ini tak pernah sepi peminatnya. Di hari biasa, terutama di malam hari jika kita melewati jalan ini maka kendaraan-kendaraan besar macam bis, truk dan kontainer yang akan menemani. Pun menjelang lebaran atau libur panjang, antrian kendaraan pribadi maupun bis baik carteran maupun umum tak kalah ramai.

Biasanya saya hanya melewati jalur ini ketika akan mudik di hari raya. Macet sepertinya menjadi agenda wajib di sepanjang jalan pantura ini, teritama jika kita berangkat menjelang hari raya Idul Fitri. Namun kini sepertinya saya lebih akrab lagi dengan jalur ini. Kini, hampir setiap bulan saya tak pernah absen. Kali ini dengan agenda belanja kebutuhan toko online saya. Tujuan akhirnya bisa ke berbagai daerah, Cirebon, Pekalongan atau Semarang.

Jika biasanya saya pulang mudik melewati jalur ini, tidak pernah memperhatikan benar kondisi jalanan (alias tinggal tidur saja) maka kini saya lebih aware dengan keadaan di pantura. Jika saya berangkat dari Jakarta sebelum subuh, maka kira-kira sampai di jalur pantura sekitar pkl 05.30. Udara sejuk masih bisa saya rasakan. Pemadangan hijau sawah yang terbentangpun masih bisa dinikmati. Sejenak melupakan pengapnya ibukota lah. Tapi apa jadinya jika kita berada di jalur ini agak siangan? Macet, kepulan asap knalpot truk dan kudu bersabar dengan selap-selipnya pengendara motor penduduk sekitar lah yang harus dihadapi. Kalau anda pengemudi pemula, janganlah mencoba-coba menyetir di sini (hmm.. sedikit curhat siy. Meskipun saya sdh bertahun-tahun nyetir di Jakarta, tapi sepertinya nyalinya belum berani coba menyetir di sini)

Tapi ada yang menarik ketika melewati daerah Karawang. Deretan rumah-rumah mungil dengan warna-warna cukup mencolok mau tak mau mencuri perhatian. Yang tak kalah menariknya lagi adalah tulisan yang terpampang di dindingnya. Umumnya nama wanita kemudian ditambah dengan embel-embel karaoke. Yah sebut saja Juminten Karaoke, Mulyati Karaoke atau sampai yang namanya agak kebarat-baratan seperti Crystal Karaoke atau Jane Karaoke. Tak lupa ditambah dengan hiasan gambar bunga mawar disisinya. Kenapa bunga mawar? Yah mungkin lebih indah jika dibanding dengan bunga bangkai atau bunga kamboja (bletak--dilempar pakai telepon umum). Mungkin karena maraknya bisnis-bisnis kecil-kecilan seperti inilah kemudian dikenal pula dengan goyang Kerawang (kenapa juga ya namanya mesti goyang? apa ada goyang di dalamnya? padahal kalau dilongok, sepertinya tempatnya kecil, apa cukup untuk goyang macam pub atau diskotik maybe?). Pemandangan yang jauh berbeda akan tampak ketika kita melewatinya di sore atau bahkan malam hari. Jika di pagi hari suasana tampak tenang seperti tak berpenghuni, lain halnya ketika di sore hari. Banyak mbak-mbak berbaju minimalis dengan dandanan maksimalis berjejer di depan rumah-rumah mungil itu. Tujuannya tak lain adalah untuk menarik perhatian pengendara mobil, motor atau bahkan truk untuk sekedar mampir melepas lelah sebentar. Menurut kabar yang beredar, mayoritas pelanggan yang mampir dan berkunjung adalah para supir truk. Yah.. tak mengherankan, diantara beratnya beban pekerjaan mereka yang mungkin hampir sebagian hidupnya dilewatkan di jalanan, pastinya mereka butuh tempat untuk melepaskan penatnya. Dan mungkin tempat-tempat semacam inilah yang sesuai dengan kriteria dan pastinya kantong mereka.

Tapi ada hal lainnya yang tak boleh ketinggalan dari kalur pantura ini. Yah, lobang. Bukan sembarang lobang melainkan memang lobang yang ada di jalanan. Meskipun setiap kali lewat jalanan ini selalu ada embel-embel "Mohon maaf ada perbaikan jalan" tapi tetap saja jalanan tidak pernah mulus. Bahkan rasanya semakin lama semakin banyak pula lobangnya. Ini tentunya menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan. Selain tidak nyaman karena harus merasakan gojlak-gojlak layaknya sedang berkendara kuda latih juga dapat merusak kendaraan. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas keberadaan lobang-lobang itu.

Yah pantura, jalur utama yang memiliki banyak cerita. Menjadi saksi bisu atas segala kejadian. Dan yang pasti, banyak hidup yang tergantung padanya.

Selasa, 29 Juni 2010

Terima Kasih Banyak Pak Pulisi ...

Jika ditanya ke saya, kejadian macam apa yang membuat saya mati gaya, maka jawabannya adalah jika harus berhadapan dengan polisi. Kalau ditanya alasannya kenapa pun, tidak bisa saya jawab. Syukur alhamdulillah untuk pengalaman urusan dengan polisi, masih bisa dihitung dengan jari (sebenarnya agak rancu juga istilah "masih bisa dihitung dengan jari", masalahnya dengan jari siapa? Apakah jari warga se RT juga bisa termasuk dalam hitungan? *bletak-ditimpuk gayung*).
Pengalaman pertama saya ketika harus berhadapan dengan polisi, itu tak membuat saya menjadi lebih pintar bagaimana harus menghadapi aparat.
Kejadian ini terjadi kira-kira sekitar 10 tahun yang lalu, yaitu saat saya masih kuliah dimana saat itu saya sedang getol-getolnya mengikuti kegiatan kemahasiswaan (wakss... sudah lama juga ya? jadi keliatan deh tuanya ^_*). Seperti biasa, saat sedang mengumpulkan dana untuk sebuah acara amal, saya bersama teman-teman melewati sekitaran Jl. Merdeka Barat. Karena saya tidak familiar dengan daerah tsb dan memang belum pernah menyetir di daerah tsb, maka saya membelok ke sebuah jalan yang lumayan sepi, mengikuti sebuah mobil sedan. Tiba-tiba, saya distop oleh polisi. Kontan pada saat itu saya panik, bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Maka saya turun ditemani oleh seorang teman saya yang sangat percaya diri (sebut saja namanya Ucup) dan terkesan sangat tahu bagaimana harus menghadapi para polisi itu. Sebelum turun dari mobil, Ucup ini sudah heboh sendiri. "Udah Wid, tenang aja, biar gw bantuin. Gampang. Lo bawa turun aja jakun (jaket kuning-jaket almamater kampus saya) skalian. Tar bilang aja, kita mo ktemu Bang Yos"
Mendengar hal tsb, teman-teman saya lainnya hanya tertawa dan hanya tinggal saya saja yang pasrah menghadapi nasib (pastinya akan tampak sangat aneh menghadapi polisi dengan berjakun, emang habis demo apa?)
Dari keterangan yang diberikan polisi, saya melanggar rambu dimana seharusnya ada tanda verboden di depan jalan artinya sebenarnya saya tidak boleh masuk ke jalan tsb. Karena saya masih bingung dan yakin bahwa saya tidak melihat rambu yang dimaksud, maka saya hanya diam saja dan si Ucup inilah yang aktif berdebat dengan polisi.
"Maaf pak, kita buru-buru nih pak, ditunggu Bang Yos mau rapat" (si Ucup dengan gaya soookkkknya pengen ditimpuk pake bola bekel)
Tampak saat itu pak polisi pun sudah mulai kesal dengan tingkah laku si Ucup ini. "Ya pokoknya adik-adik ini melanggar lalu lintas"
"Ya udah deh pak, damai aja, Bapak juga ga adil, masa tadi di depan ada mobil yang lewat, tapi cuma kita aja yang distop" (hadoooohhh rasanya saya ingin menyumpal mulut Ucup karena khawatir bukannya beres malah jadi repot).
"Mobil yang mana?Mobil sedan tadi?Itu kan mobil kedutaan mas" timpal pak polisi.
MasyaAllah.... jadi, yang kita ikutin itu mobil kedutaan?Pantesan aja.... Padahal yang dari awal ribut untuk mengikuti mobil tadi ya si Ucup juga...hufh.. tambah gondoklah saya. Walhasil saya harus mengurus tilang dan printil-printilan lainnya sendiri (Yap benar, SENDIRI, karena antara trauma sewaktu mengikuti anjuran si Ucup atau kesel karena Ucup ga mau bertanggung jawab atas segala kelakuannya). Oh ya, sebagai tambahan, tuh polisi marah karena kita dianggap mau nyogok polisi (kalau yang ini, saya gak berani komentar).
Pengalaman terbaru saya harus berurusan dengan polisi adalah kemarin. Dulu, saat saya masih bekerja dan berangkat bareng suami dari mulai naik motor sampai akhirnya naik mobil (ciechhh.. pamer sdikit ahhh.. -mbenerin baju), selalu melewati Jl. Saharjo dan belok kanan di bawah fly over menuju arah Jl. Gatot Subroto. Dan yang namanya pagi, selalu banyak teman jalannya, semuanya terburu-buru dan terakhir, selap-selip jadinya. Dan biasanya pula, kalau lampunya masih kuning, malah dinaikkan gasnya, pepet kendaraan depan, dan sssstt... salip kiri. Aman.
Nah hal itu pula yang kemarin saya lakukan. Tapi herannya, saat melakukan itu, saya masih sempat menengok spion dan terheran-heran, "Lho koq, ga ada yang ngikutin?"
Dan ternyata, taraaaa... muncul pak pulisi melambai-lambaikan tangan (dan memberikan sun jauh... hahahaha.. ya gak lah... mau disambit pake sumur?). Yak betul saya disuruh minggir. Kontan saja saya panik. Berbagai sumpah serapah pun mulai bermunculan.
"Selamat siang, mau kemana Bu?Kerja?" tanya pak polisi. Tak sadar sayapun menganggukkan kepala. "Kerja koq masuknya siang begini, kesiangan ya semalam habis bergadang nonton bola?". Tambah bete lah saya dikomentari demikian. Seperti biasa, dimintalah segala keperluan surat-surat sambil polisi itu mulai menceramahi saya betapa bahayanya kalau menerobos lampu merah. Saya yang yakin bahwa masih lampu kuning saat saya jalan sampai akhirnya saya menyerah saja dan hanya bisa pasrah mengangguk-anggukan kepala saja sambil berkata "maaf". Kemudian pak polisi tersebut mulai meneliti surat-surat kelengkapan kendaraan alias SIM dan STNK. Dan ternyata (drum please..) taraaaa....SIM saya mati alias sudah expired. Wah lengkaplah kesialan saya hari itu. Saya benar-benar lupa bahwa saya seharusnya sudah memperpanjang SIM tahun ini. Mulailah lagi pak polisi itu memberikan petuah-petuah. "Wah mbak ---turun niy derajatnya dari yang awalnya dipanggil "Ibu" sekarang dipanggil "Mbak". Kalo lupa itu biasanya 1 bulan, kalo 2 bulan apalagi ini mau 3 bulan namanya itikadnya udah ga baik" Saya sebenarnya agak bingung dengan pernyataan itu. Yang namanya lupa ya buat saya ya lupa. Mana pernah saya mengecek SIM kecuali, yaah kalau ada kejadian semacam ini. Makin lemaslah saya membayangkan berapa yang harus saya bayarkan. "Jadi maunya gimana niy mbak?" tanya polisi. Saya yang dari dulu tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi polisi ya hanya berujar, " Ya deh pak saya ngaku salah, terserah aja kalau ditilang, ". Si polisi ini tampak bingung menghadapi respon pasrah saya. "Nanti saya minta slip biru ya pak" ujar saya, disaat seperti itu saya masih mencoba untuk mengingat-ingat panduan jika distop polisi yang pernah saya baca. Dia melihat-lihat lagi SIM saya, "Mbak Widi Admiranti, rumahnya di JKT Timur ya.. Wah namanya sama niy sama nama istri saya". Mendengar ini saya hanya tersenyum-senyum hambar. Cengar-cengir gak karuan. "Ya udah deh jalan aja, ga saya tilang kali ini, tapi jangan nrobos lampu merah lagi ya!" Waks... serasa tak percaya mendengarnya. "Ya udah deh mbak jalan aja sana, tar bikin macet di sini," tambahnya.. Hah.. masih plonga-plongo kaya orang bego. Akhirnya dalam hati saya berteriak sekencang-kencangnya. "Yihaaa..". "Makasih pak.. makasih pak.. ya pak maaf.. gak ngulangin lagi pak.."ucap saya. Langsung saya melaju dengan cepat. Tapi hati kecil saya masih bertanya-tanya, kenapa ya saya tidak ditilang? Mungkin karena nama saya sama dengan nama istri si Bapak itu.. Takut kualat hihihi....
But eniwei... Many thanks to pak pulisi HW yang tugas di dekat patung gatotkaca lagi main bowling karena sudah membebaskan saya dari tilang.. Ampuuuunnn Pak, saya ngaku...

Minggu, 27 Juni 2010

Orang Indonesia Kreatif

"Wow", "Keren", "ck..ck..ck..". Ungkapan-ungkapan itulah yang tak henti-hentinya keluar dari mulut saya saat mulai masuk Jakarta Covention Center sampai akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Menyambangi Pameran Pekan Kreatif Indonesia adalah agenda saya untuk mengisi akhir pekan kemarin dengan menggeret suami tentunya.
Dibaca dari nama eventnya saja tentulah sudah terbayang di benak kita apa isi pameran itu bukan?
Berbagai macam produk-produk yang membuat decak kagum dipamerkan disini. Mulai dari mobil hemat energi yang sebelumnya sudah saya lihat talkshownya di Kick Andy malam sebelumnya, hasil pengolahan limbah sampai produk nugget dan ice cream berbahan dasar jamur.
Tentunya event ini semakin menguatkan eksistensi bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kreatif. Seperti misalnya di salah satu booth yang memamerkan tas-tas yang bahan dasarnya dari limbah pasta gigi yang tidak disangka ternyata pengrajinnya adalah kaum manula, atau ada juga hasil karya anak-anak SMK yang memamerkan notebook yang mereka rakit sendiri.
Namun, untuk saya pribadi, kehebatan atas kreativitas anak negeri ini terasa ada yang kurang. Yaitu kurangnya kemampuan mereka untuk berkomunikasi. Jadinya, ya mayoritas hasil kreativitas itu hanya sebatas produk pajangan saja. Entah karena dalam mind set para partisipan ajang ini hanya sebagai ajang jualan semata yang kalau tertarik ada pembeli baru mereka jelaskan atau karena mereka sudah lelah karena Sabtu kemarin adalah hari kesekian mereka berpameran. Namun, apapun alasannya, tentunya informasi mengenai produk yang dibawa itu mutlak diperlukan.
Jika ditilik dari sisi harga, harga yang ditawarkanpun agak lebih mahal dibandingkan dengan pameran produk sejenis, sebut saja misalnya inacraft, ajang pameran tahunan yang dihelat untuk memamerkan produk kreatifitas. Hal ini juga yang saya dapatkan informasinya dari salah seorang teman dari Solo pemilik booth aksesoris berbahan tembaga. "Pameran ini tidak terlalu banyak pengunjungnya. Antusiasmenya juga kurang. Kalau dibanding inacraft atau pameran produk kreatif tahun lalu juga bedanya jauh". Mungkin hal inilah yang mendasari para peserta untuk tidak memberikan harga yang lumayan bersahabat di kantong.
Namun, apakah produk-produk kreatif harus diasosiakan dengan harga mahal? Pertanyaan ini pun menggelitik benak saya saat saya kemarin menyambangi pameran UKM di Smesco, Gatot Subroto Jakarta Selatan. Sebagai orang yang berwiraswasta dengan batik, memang saya rajin untuk berkunjung ke pameran-pameran serupa. Tujuannya adalah sebagai referensi pribadi. Dan ternyata kenyataan mengenai harga pun diamini di ajang ini. Batik printing yang biasa dijual di pengrajin dengan harga tidak lebih dari Rp. 50.000, di sini dijual dengan harga Rp. 300.000 (baiklah.. saya mengerti, pasti alasannya karena sudah masuk tempat bagus, ber AC, dijual oleh mbak-mbak cantik dengan make up maksimalis, ada iklannya, dsb, dsb) tapi apakah hal tersebut membuat ita harus merogih kocek sampai lebih dari 6x jika dibandingkan dengan beli langsung ke daerah asalnya?
Namun saya tetap setuju bahwa yang namanya kreatifitas memang harus dijunjung tinggi, dihargai dengan penghargaan yang pantas karena jika tidak, maka tidak ada lagi orang yang kreatif, lebih memilih menjadi plagiat dan akhirnya membuat bangsa tidak berkembang (tsaaahh.. kenapa jadi serius begini?)
Bagi saya dan suami, bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa besar yang sangat kreatif.


Sebuah review serius dari seseorang yang suka nulis yang ga serius

Jumat, 25 Juni 2010

Online Shopping

Mungkin bagi beberapa orang, istilah ini sudah familiar, tepi bagi beberapa orang lainnya juga pasti akan mengernyitkan dahi saat mendengar istilah tersebut. Sama halnya seperti reaksi oma saya saat saya menjelaskan mengenai sistem bisnis yang tengah saya jalani sekarang ini.
Yap, saat ini saya sedang menggeluti bisnis online shopping yakni berjualan batik melalui internet. Selama beberapa menit saya harus menjelaskan dengan bahasa sederhana pada oma saya mengenai prinsip online shopping. Karena nada responnya masih terdengar seperti "ga percaya" dibandingkan "ga mudeng", jadi kalimat terakhir saya adalah "masih ga percaya ya oma?" (masih ga percaya disini adalah bukan masih ga percaya saya melakoni bisnis ini, tapi masih ga percaya dengan sistem yang berlaku). Tapi begini reaksi oma saya, "Oma bukannya ga percaya, tapi masih belum kebayang aja bagaimana bentuknya, wong teman-teman Oma saja yang punya bisnis ga pakai internet, barangnya masih bisa dipegang saja masih bisa kukut-kukut (tutup-bahasa Jawa) karena pelanggannya ga bayar" (sepertinya siy ini kombinasi antara ga mudeng dan ga percaya juga ya?)
Sejujurnya tidak pernah terbayangkan juga bahwa saya akan melakoni bisnis ini. Buat saya yang gaptek, dan masih kuno (dalam beberapa hal), yang namanya membeli barang ya berarti harus datang ke toko, memilih, memegang sendiri barangnya lalu bayar. Tapi voila!!! nasib berkata lain. Dengan bondo nekat dan pengetahuan ala kadarnya maka jadilah on line shopping mungil kami yang menyediakan berbagai macam batik warisan negeri. Menggunakan "kami" karena saya tidak sendiri. Ya, ini adalah usaha bersama 3 teman saya lainnya. Awalnya memang hanya iseng belaka karena kami punya misi yang sama, punya usaha dan sama-sama cinta batik.
Dan setelah setahun berlalu, usaha batik kami semakin lama semakin berkembang. Mungkin salah satu faktornya adalah karena saat ini batik memang sedang booming, entahlah karena memang kami memanfaatkan keadaan atau memang sudah rejekinya ada disini, ya kami nrimo (bukan sekedar nrimo saja tapi juga berusaha mati-matian -tssaaahhh...).
Bisnis online memang sedang trend. Tak hanya karena orang-orang saat ini sudah melek teknologi tapi juga sudah menikmati kenyamanan berbelanja melalui internet di masa semakin menjamurnya mall-mall di kota besar.
Bisnis online adalah bisnis kepercayaan. Hal ini sebenarnya yang dijual oleh pemain-pemain online shopping kepada pelanggannya. Bagaimana tidak? Secara logika saja, antara penjual dan pembeli tidak saling mengenal sebelumnya, kemudian deal melakukan transaksi, pembeli melakukan transfer sejumlah dana ke rekening penjual, dan barang terkirim. Bagaimana jika penjual berbohong? Bagaimana jika penjual tidak mengirimkan barangnya? Bagaimana jika apa yang sebelumnya dilihat pembeli di internet berbeda dengan aslinya?Bagaimana jika barangnya rusak? dan sejumlah bagaimana-bagaimana lainnya yang mungkin akan muncul di benak calon pembeli saat pertama kali mengalami sensasi belanja online. Syukur alhamdulillah sampai detik ini, kami belum pernah menerima komplain dari pembeli dan ini yang betul-betul kami jaga saat ini. Bahkan ada masanya ketika kami harus mengembalikan sejumlah dana kepada calon pembeli karena saat akan melakukan pengiriman, terdapat cacat pada barang tsb. Kami batalkan transaksinya dan beribu-riba kata maaf kami rangkai dengan seksama. Itu prinsip kami, lebih baik kehilangan 1 transaksi dibanding 1 pelanggan.
Selain melalui online, kami juga mengantarkan barang langsung ke pembeli (yang sebelumnya memang kami kenal melalui online). Buat saya pribadi, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang sangat berharga. Semisalnya saat saya bertemu dengan seorang ibu yang pernah menjadi dubes di beberapa negara di Eropa. Banyak ilmu yang saya "curi" dari beliau. Dari beliau juga saya dapatkan testimoni kelebihan belanja online yaitu ada semacam perkumpulan pecinta batik yang awalnya bertemu di dunia maya, akhirnya kopi darat dan bahkan sering sharing antar mereka. Impian saya saat ini adalah saya dapat bergabung dengan mereka (errr... i hope- tidak perlu sebagai penjual tapi sebagai pribadi yang ingin banyak-banyak menimba ilmu). Sebagai tambahan informasi, meskipun memiliki hobi belanja melalui internet bukan berarti ibu ini tidak belanja secara konvensional. Mblasak-mblusuk pasar di Solo sampai menghadiri pameran perancang-perancang terkenal juga dilakoninya. *bravo-prok prok prok*
Sedangkan menurut salah seorang pelanggan saya lainnya, penjual di dunia maya ini rata-rata jujur (hadoooohhh.. mudah-mudahan kami -tetap menjadi- salah satunya). "Ya kalau ada cacat, mereka bilang, ga jadi juga ga papa" kutipnya. Yah itulah yang menjadi modal kami juga. Kepercayaan.
Siapa bilang belanja di internet itu transaksi dalam jumlah kecil dan tak seberapa? Tak jarang pula ada yang bertransaksi dalam nilai jutaan rupiah sekali transaksi *weleh-weleh ngeces*.
Saya sebagai pemain dalam bisnis online berharap bahwa ke depannya bisnis ini tidak seperti jamur alias musiman yang banyak kala hujan tapi tak muncul saat musim kemarau..
Mudah-mudahan....Amieeennn...

Kamis, 24 Juni 2010

Window Shopping

Yap!! Selalu identik dengan wanita. Tergantung tipe wanitanya juga siy. Ada wanita yang hobi dengan window shopping ada pula wanita yang hobinya menghilangkan kata window di depannya, alias shopping saja. Alasannyapun macam-macam. Bisa karena hobi, sekedar iseng semata atau bahkan sudah menjadi addict terhadapnya. Kalau saya pribadi, saya lebih cenderung ke wanita penghobi window shopping. Alasannya sederhana karena saya cukup terpuaskan hanya dengan melihat-lihat saja dan tak perlu sampai memiliki. Mungkin karena saya termasuk orang dengan paham cinta tak harus memiliki *bletak- dilempar mesin tik*.
Kecuali untuk item-item tertentu dimana saya sangat menginginkan suatu barang hingga terbawa mimpi, nah itu baru saya beli (tapi sepertinya harus dikonfirmasikan juga langsung ke suami saya, benarkah istrinya demikian?). Karena hobi pula yang mendasari saya untuk mencoba menjadi pengusaha batik. Jalan-jalan, melihat barang-barang baru dan syukur-syukur ada yang berminat membeli :)
Diantara teman-teman kantor saya (dulu), saya dikenal sebagai orang yang paling rajin "setor muka" ke mall. Minimal 1 minggu sekali terutama saat libur, pasti tujuannya gak jauh-jauh dari mall. Bahkan suami saya pun yang sebelum pacaran boro-boro ke mall, sampai akhirnya sekarang rajin menemani istrinya ini (karena terpaksa? sepertinya gak deh soalnya kalau belum ada inisiatif dari saya, pasti dia yang akan tanya duluan mau kemana hari ini)
Bicara mengenai window shopping, ada satu kebiasaan unik yang biasanya terjadi saat saya sedang menikmati hobi ini. Yang namanya window shopping pastinya gak jauh-jauh dari masuk toko, lihat-lihat, pegang-pegang, dikembalikan lagi barangnya, keluar toko (hmm... sebenarnya definisi window kan hanya melihat dari jendela etalase saja ya? entahlah.. tapi ini yang selalu terjadi pada saya. Siapa tahu setelah dipegang, lihat tag price cocok, jadilah shopping...*garuk-garuk meja*). Tapi seringkali setiap keluar dari satu toko, suami selalu komentar, "Koq ga jadi beli?Kenapa?" Satu dua kali siy ga masalah ditanya seperti itu, tapi kalau saban keluar toko ditanya seperti itu jadinya jengah juga. Dan percakapan seperti ini tidak hanya muncul pada percakapan antara kami saja, tapi juga ayah saya yang selalu menanyakan hal yang sama. Bahkan suami sepupu saya pun melakukan hal yang sama pula. Memang 3 sample tidak bisa ditarik kesimpulan secara general mengenai pria, tapi hal ini akhirnya membuat saya bertanya-tanya, apakah semua pria mempunyai prinsip yang sama? Saat masuk sebuah toko, artinya harus membeli sesuatu. Wah repot juga ya kalau seperti itu. Dan yang pastinya akan diuntungkan adalah si empunya toko. Lama-lama tak hanya tulisan "membuka kemasan berarti membeli" tapi juga "memegang barang berarti membeli". LOL